UPAYA MENGATASI TANTANGAN

 
 
1. Peningkatan Produksi

Setelah mencapai puncak produksi kedua sebesar 1,62 juta bph pada tahun 1995, produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan menjadi sekitar 1,06 juta bph pada tahun 2005 atau turun 35% dalam 10 tahun terakhir ini. Penurunan ini bersifat alami karena mayoritas (lebih dari 90%) produksi minyak berasal dari lapangan minyak yang sudah berstatus lapangan tua atau ”mature”. Laju penurunan produksi (decline rate) dari lapangan-lapangan tua ini secara progresif terus meningkat dari sekitar 3% pada tahun 1997 menjadi sekitar 11% pada tahun 2002 dan akan terus meningkat lagi apabila tidak ada upaya yang dilakukan.

Upaya peningkatan produksi secara garis besar dibagi menjadi 2 (dua) kelompok kegiatan, yaitu: (1) kegiatan untuk mengurangi penurunan produksi pada lapangan-lapangan minyak yang sudah berproduksi, dan (2) kegiatan membuka lapangan-lapangan baru.

Upaya yang dilaksanakan untuk mengurangi penurunan produksi dari lapangan-lapangan minyak yang sudah berproduksi antara lain adalah membuka lapangan-lapangan baru untuk memproduksikan minyak dari cadangan yang sudah ditemukan. Kegiatan untuk membuka (mengembangkan) lapangan minyak baru tersebut membutuhkan waktu sekitar 3 (tiga) tahun. Pada pengembangan lapangan gas waktu yang dibutuhkan akan lebih lama lagi karena harus memiliki kontrak penjualan gas terlebih dahulu sebelum lapangan gas dikembangkan.

Semenjak tahun 2002 telah dilakukan berbagai upaya, khususnya yang bersifat jangka pendek dan menengah guna menahan laju penurunan produksi minyak, antara lain berupa:
 
1).
Optimalisasi perawatan sumur dan fasilitas produksi.
 
Kegiatan ini khususnya dilakukan di lapangan-lapangan produksi terbesar seperti di wilayah kerja ChevronTexaco (CPI). Dengan upaya ini laju penurunan produksi lapangan existing dapat ditahan sampai sekitar 5 -7% per tahun pada tahun 2005 - 2006.
   
2). Mempercepat pengembangan lapangan-lapangan baru.
 
Sejak tahun 2003 telah berhasil dikembangkan 82 lapangan baru. Upaya ini mampu memberikan tambahan produksi sebesar 59 ribu bph pada tahun 2006. Apabila mengejar target APBN 2007 dibutuhkan tambahan produksi sebesar 102 ribu barel perhari sehingga total produksi lapangan baru mencapai 161 ribu bph pada tahun 2007. Upaya ini juga mampu menekan laju penurunan produksi minyak nasional dari 8,3% pada tahun 2003 menjadi sekitar 3% pada tahun 2005 dan 5% pada tahun 2006.
 

Tabel 8
Perkembangan Produksi Minyak Indonesia dari Lapangan Exixting dan Lapangan Baru

*sudah termasuk upaya optimalisasi produksi, EOR dan infill drilling

**Target produksi APBN 2007
 
Tidak tercapainya target produksi minyak tahun 2006 tersebut di atas terutama disebabkan oleh berbagai kendala atau gangguan operasional di beberapa lapangan. Gangguan operasional ini antara lain terjadi di daerah Lapangan Belanak (kandungan merkuri dalam minyak tinggi, sehingga sebagian peralatan perlu diganti/dilengkapi), Lapangan Salawati (kesulitan pengadaan FPSO), Lapangan Bene Bekasap (terganggu tumpang tindih lahan kehutanan), Lapangan Seram (tertundanya pemboran sumur baru karena masalah bawah tanah), Lapangan Duri (akibat banjir sehingga work over dan pemboran sumur baru terkendala), Lapangan Selat Malaka (gangguan keamanan dan fasilitas pompa), Lapangan West Piano (pemboran sumur baru ditunda), lapangan ONWJ (penggantian peralatan yang sudah tua), Lapangan Vita dan Ariani (proyek waterflood tertunda), Lapangan West Seno (jumlah cadangan yang tidak sesuai perkiraan), dan beberapa lapangan lain yang terkendala karena ijin kehutanan (Zamrud South E1-7, Ripah 23) serta masalah ganti rugi lahan (Sukowati 5-8, Banyu Asin, Semanggi-PG, Semanggi – PH, Semanggi – PF dan Kawengan – PAG).